Kesaksian Warga Jati Padang Soal Detik-detik Tanggul Baswedan Jebol: “Seperti Tsunami”
Majalah Jakarta Selatan — Sejumlah wilayah di Kelurahan Jati Padang, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dilanda banjir besar setelah Tanggul Baswedan di kawasan tersebut jebol pada Jumat sore (31/10/2025). Peristiwa ini menyebabkan air dari aliran Kali Pulo meluap deras ke permukiman warga, menenggelamkan puluhan rumah dalam waktu singkat.
Warga RT 03 RW 06, Supri (45), menggambarkan momen tanggul jebol itu sebagai peristiwa yang sangat mengerikan. Ia menyebut air yang menerjang permukiman seperti gelombang tsunami.
“Bukan kaget lagi, pokoknya udah kayak tsunami. Ini tumpah, pas kita mau nutup pintu nggak bisa, air udah nekan banget ke rumah. Semeter itu di dalam rumah, padahal rumah saya udah paling tinggi itungannya,” ujar Supri saat ditemui di lokasi.
Menurut kesaksian warga, kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 16.00 WIB, ketika hujan deras mengguyur kawasan Pasar Minggu dan sekitarnya. Dalam hitungan menit, air dari arah tanggul langsung menerobos dinding pembatas dan mengalir deras ke jalan serta rumah-rumah penduduk.
“Kami sedang di rumah, hujan deras sekali. Awalnya cuma genangan kecil, tapi tiba-tiba terdengar suara ‘bruk’ dari arah kali. Begitu kami lihat, air sudah datang cepat banget,” tambah Supri.
Beberapa warga sempat berupaya menyelamatkan barang berharga, namun arus air terlalu kuat. Sebagian besar hanya bisa mengamankan diri bersama anggota keluarga ke tempat yang lebih tinggi.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum di sekitar lokasi juga terdampak, termasuk jalan lingkungan, pos ronda, dan tempat ibadah. Petugas gabungan dari BPBD DKI Jakarta, Satpol PP, dan Damkar langsung dikerahkan ke lokasi untuk membantu evakuasi serta menutup sementara aliran air dengan karung pasir dan papan kayu.
Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan, Eko Prabowo, mengatakan bahwa tanggul yang jebol tersebut sebelumnya telah mengalami keretakan kecil sejak awal Oktober. Pihaknya mengaku sudah melakukan pemantauan rutin, namun intensitas hujan yang tinggi dalam dua hari terakhir menyebabkan tekanan air meningkat drastis hingga akhirnya dinding tanggul runtuh.
“Kami sudah lakukan peninjauan lapangan. Sementara ini, upaya darurat difokuskan untuk menahan aliran air agar tidak meluas, sambil menyiapkan perbaikan permanen,” jelas Eko.
Akibat insiden ini, sedikitnya 53 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi sementara ke posko darurat di Mushala Al-Mubarokah. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan telah menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, air mineral, serta selimut untuk para pengungsi.
Sementara itu, Camat Pasar Minggu, Bayu Andrianto, meminta warga tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan masih tinggi. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai, yang dapat memperburuk kondisi aliran air.
“Kami bersama pihak kelurahan dan SDA sedang menyiapkan langkah rehabilitasi tanggul agar tidak terulang kembali. Kami juga meminta warga melapor jika ada tanda-tanda retakan di sekitar bantaran sungai,” ujar Bayu.
Peristiwa jebolnya Tanggul Baswedan ini menjadi pengingat penting akan perlunya perawatan rutin infrastruktur pengendali banjir di wilayah padat penduduk seperti Jakarta Selatan. Banyak warga berharap agar perbaikan dilakukan segera dan lebih kuat dari sebelumnya.



